Article Detail

KELUARGA ADALAH MUARA CINTA

Harta yang paling berharga adalah keluarga. Begitu salah satu lirik lagu yang berjudul “Harta Berharga”. Bahasan tentang keluarga ini pula disampaikan oleh Romo Alexander Erwin Santoso, MSF dalam retret guru dan karyawan Tarakanita Blok Pluit tanggal 2-3 Februari 2022. Berbicara tentang keluarga menurut saya adalah hal yang menyenangkan tetapi bisa juga menjadi hal yang menyesakkan. Mengapa demikian? Banyak hal yang membuat saya bisa merasakan bahwa keluarga itu menyenangkan tetapi juga bisa menyesakkan.

Keluarga bisa menyenangkan ketika saya bisa merasakan kebersamaan seperti bersantai bersama, makan bersama, berdoa bersama, bersih-bersih rumah bersama dengan suami dan anak. Ketika bersama, meskipun hanya menonton TV atau ngobrol santai dengan suami sudah terasa menyenangkan. Bisa saling mengungkapkan hal yang dirasakan, berbagi pengalaman, bahkan bisa sharing keinginan akan masa depan bersama-sama yang sejalan itu sangat menyenangkan. Suami mendukung apa yang saya harapkan, apa yang saya lakukan itu juga sangat menyenangkan. Suami bercanda dengan anak, meluangkan waktu bersama istri dan anak itu juga sangat menyenangkan.

Namun, keluarga bisa menyesakkan ketika muncul perbedaan pemikiran, perbedaan persepsi, bahkan argumen yang begitu kontras antara saya dan suami. Contoh kecil, ada kebiasaan di rumah untuk meletakkan barang-barang sesuai tempatnya, atau selalu merapikan barang yang sudah dipakai. Kadang ketika hal tersebut tidak dilakukan itu membuat perdebatan kecil yang akhirnya terbawa suasana kesal yang bermuara ada kemarahan.

Katanya kalau sudah hidup berkeluarga, kita harus mengutamakan kata “saling”, bukan “keakuan”. Tapi pada kenyataannya, hal itu masih sulit untuk dilakukan. Menyamakan persepsi dan pemikiran dua belah pihak itu bukan sesuatu yang mudah. Itu sulit, terlebih jika pemikirannya sangat berbeda jauh dan tidak ada yang saling mengalah. Hal tersebut masih saya alami dalam keluarga kecil ini. Romo Erwin memaparkan sensinya cinta karena cinta dipengaruhi rasa, bukan hanya dirinya sendiri. Cinta pada dasarnya berasal dari perasaan setiap pribadi. Namun, apabila sudah berkeluarga perasaan cinta ini seharusnya melingkupi seluruh anggota keluarga. Pada kenyataannya, perasaan cinta kadang tidak bisa menyeluruh. Adanya rasa cemburu dan kurang percaya satu dengan yang lain membuat cinta mengarah pada keegoisan.

Perlu disadari bahwa berkeluarga harus memiliki banyak rasa sabar dan pengertian. Sabar dengan keadaan, sabar dengan orang yang hidup bersama kita, dan saling pengertian satu dengan yang lain. Namun, hal ini juga masih perlu diusahakan dalam pelaksanaannya. Seperti yang disampaikan Romo Erwin, keluarga Katolik rasa cintanya tidak hanya berkutat pada suami dan istri tetapi juga melibatkan Tuhan sebagai pemberi rasa cinta. Memang betul kita harus selalu melibatkan Tuhan dalam setiap hal terlebih ketika dalam keluarga. Namun terkadang, ketika dalam kondisi marah dan penuh emosional rupanya Tuhan pun dilupakan begitu saja. Hal ini sering terjadi sebab kita sudah terbawa rasa emosional itu.

Manusiawi jika kita marah dengan hal yang tidak sesuai dengan kemauan atau harapan kita. Dalam keluarga pun bisa juga muncul ketidakharmonisan pada saat harapan tidak terwujud dengan baik. Kadang saya berusaha untuk bisa mengendalikan rasa “nrimo” keadaan yang terjadi. Ya karena saya orang yang ekpresif saya ungkapkan hal tersebut kepada suami tetapi respon suami yang tidak sesuai ekspektasi saya akhirnya membuat saya ya sudahlah, diam lebih baik daripada menyampaikan rasa malah dianggap sering “sambat”.

Suami mengatakan bahwa apapun itu dikomunikasikan. Itu saya setuju. Namun kenyataannya apa yang saya sampaikan cenderung dianggap sebagai keluhan. Itu menyakitkan buat saya. Dari pengalaman itu, selalu saya sulit mengungkapkan apa yang saya rasakan, saya pikirkan, saya harapkan kepada suami karena pada akhirnya apa yang disampaikan suami membuat saya lebih sakit hati. Pada akhirnya saya memilih diam saja dan hal tersebut ternyata membuat masalah lebih rumit lagi. Bertengkar hebat adalah puncak dari diamnya saya.

Setiap masalah yang muncul dalam keluarga kalau saya ingat pengalaman sebelumnya bermula dari komunikasi yang tidak lancar. Adanya “misskom” dengan suami yang selalu berulang menjadikan masalah muncul tidak henti. Selain itu, saya yang memilih diam menjadikan suami bertanya-tanya apa dan mengapa seperti itu. Saya masih mengutamakan ego saya dalam kejadian tersebut. Untuk melakukan komunikasi dengan suami juga sangat sulit untuk saya lakukan. Namun akhirnya memang komunikasilah yang menjadi solusi mencairkan batu es dalam hati saya meskipun kadang dengan bertengkar hebat terlebih dahulu.

Mengomunikasikan pemikiran dan perasaan bersama pasangan memang tidak bisa hanya dengan sudut pandang satu belah pihak saja. Apalagi Tuhan tidak dilibatkan, itu fatal. Keharmonisan dan kedamaian dalam keluarga tidak akan terasa di dalamnya. Untuk itu, sebisa mungkin komunikasi harus berjalan dan dilakukan kapanpun itu. Bahkan komunikasi juga dilakukan bersama Tuhan pada saat berdoa. Saya sangat bersyukur bahwa dalam keluarga selalu ada kegiatan doa meskipun tidak rutin.

Setiap hal yang terjadi dalam keluarga selalu saya syukuri baik yang membahagiakan maupun yang menyedihkan. Hal yang terpenting adalah saling dukung antaranggota keluarga dan saling mengingatkan jika yang lain kurang peduli atau semaunya sendiri. Sebab ketika sudah berkeluarga saya percaya bukan hanya tentang “mauku” atau “maumu” melainkan sudah menjadi “mau kita”. Semua harus dilakukan bersama-sama demi lancarnya komunikasi, adanya kebahagiaan dan keharmonisan keluarga. Sebab keluarga adalah tempat muaranya cinta, awal kita diterima, dikasihi, dicintai, dan tumbuh menjadi pribadi yang seutuhnya. Bersama dengan keluarga, setiap permasalahan yang ada pasti bisa diselesaikan dengan komunikasi dan juga Tuhan selalu dilibatkan. Bagi saya hal tersebut tidak mudah tetapi bukan sesuatu yang mustahil untuk dilakukan. Hal yang terpenting adalah selalu berusaha dan bertumbuh menjadi lebih baik dari sebelumnya serta melibatkan Tuhan setiap saat.

 

Hasil Refleksi

Caecilia Petra Gading May Widyawari

Guru Bahasa Indonesia 

Comments
  • there are no comments yet
Leave a comment